“2.000 !”
(sebelum kenaikan...)
Pada suatu hari yang berbeda, di lokasi yang lain,
...
“ Dua ribu pak !”
“Ini” kuserahkan 2 lembar uang ribuan kepadanya.
“Silakan !” katanya sambil menerima uang itu. Sepeda motorku diminta untuk ke luar arena. Portal penghalang kendaraan terangkat ke atas dan membuka.
“Sebentar, anda belum memberikan struknya.”
“Ma’af pak, di belakang masih banyak kendaraan!”
“Ya, ya..., tapi anda belum memberikan struk tanda terima pembayaran.”
“Kamu mau apa?” ia berkata kasar, seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu keluar dan mendekatiku, dengan gagah dan mata menajam.
“Berapa rupiah tarif parkir di sini untuk 1 jam pertama?” aku mencoba tenang.
“Berapa lama kamu parkir, hah ?!” ia tampak emosi.
“Lho, apa anda tak teliti tiket masuk tadi?” tanyaku tegas.
“Teliti apa, apa yang diteliti ?!” ia mulai ngawur.
“Lihat baik-baik, pada tiket masuk tadi,” kataku tetap tenang.
“Apa yang dilihat ?!”
“Pukul berapa tadi motor ini ...”
“Ah sudah, bayar dulu dua ribu !” ia memotong kalimatku.
Tiiit...tiitt...tiittt... antrean motor di belakangku mulai tak sabar.
Seorang pengendara yang antre ku lihat turun dari sepeda motornya, berjalan hendak mendekat dan terlihat penasaran.
“Ada apa ini...” barangkali begitu dalam hatinya.
Petugas dari Satpam berlari, menuju ke arah kami berdua. Melalui perdebatan kecil, ditengahi pak Satpam, akhirnya aku ada di pihak yang benar. Kemudian hanya membayar seribu rupiah.
...
Motorku melaju lambat, sambil tersenyum sendiri, entah senyum untuk apa, sebab pikiran dan persaanku mengambang melayang menerawang entah sampai ke mana, aku hanya ingat, --tarif parkir sepeda motor, Rp.1.000,- untuk 1 jam pertama Rp. 500,-- setiap 1 jam berikutnya, seperti terpampang pada pintu masuk. Dan di sana, aku parkir tidak lebih dari 45 menit. –setelah tak menemukan kaset Ona Sutra yang kucari- Meskipun insiden tadi menyita waktu sekitar 10 menit.
Minggu, 14 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar