kadangkala hati tak bisa diam, ada kata dan kalimat yang melintas, kalau di tangan ada kertas secarik, maka tertulislah dua tiga kata atau kalimat. kemudian terbuang dan hilang. mungkin tersimpan tetapi terselip pada tempat yang tak tentu, entah di mana, entah di mana... "o,ketimbang terbuang, mendingan tertuang"

bismillah! noe'ng di sini, di kebon besar. tangerang, maret 2010/rabi'ul awwal 1431

di dalamnya ada suka duka dan luka, ada cerita cinta dan cita, ada aku kau dan mereka.

Jumat, 12 Maret 2010

"podo mbalik maring rahmatullah..." (4)

“podo mbalik maring rahmatullah”

Dari tiada, -mati- lalu Allah ciptakan menjadi ada, -hidup- kemudian Allah matikan lagi, lalu Allah hidupkan lagi setelah kematian itu. Kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan. “Bagaimanakah kamu ingkar kepada Allah, padahal dulunya kamu mati (tidak ada), kemudian Allah menghidupkan kamu, kemudian Allah mematikan kamu dan menghidupkan kamu kembali, kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” (QS-2:28). Jadi, ke manakah kita-kita manusia ini kembali atau berpulang? –podo mbalik maring rahmatullah- kembali ke haribaan kasih sayang Allah.

“Dunia memang diciptakan indah dan mempesona, membuat hati manusia jatuh cinta pada kehidupan dunia, dan tak ingin meninggalkannya.” Kata Ustaz, “Perempuan, anak-anak dan harta benda, itulah di antara sekian banyak perhiasan dunia yang menyenangkan, tetapi jangan lupa, semua itu hanyalah permainan belaka.” Ingat firman Tuhan, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa yang diinginkan, yaitu perempuan, anak-anak dan harta yang banyak dalam bentuk emas, perak, kuda-kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah – lah tempat kembali yang baik.” (QS-3:14). Kemudian masalahnya sekarang, sudah siapkah kita untuk kembali kepadaNya. Perbekalan apa yang sudah ada pada kita?

Pintu pertama kita menuju kepulangan kepada Allah SWT., adalah kematian. Maka katakanlah, “...Inna lillahi wa inna ilaih roji’un.” –sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepadaNya--.” (QS-2:). Mati, setelah dimandikan, dikafani dan disalatkan lalu jenazah digotong dengan keranda menuju tanah pekuburan. Lubang kubur sudah dipersiapkan, dengan ukuran jauh lebih kecil dari rumah kita ketika masih hidup, bahkan juga jauh lebih kecil dari kamar tidur. Di lubang itulah jenazah kita dibaringkan, lalu tanah ditutup, ditimbun kembali dan dipadatkan. Tinggallah kita di dalamnya sendirian, dalam sebuah ruang yang amat sempit, kecil dan gelap gulita.

Ada tiga hal yang mengantar jenazah menuju tanah pekuburan, yaitu keluarga, harta benda dan amal perbuatan sepanjang kita hidup di dunia. “Keluarga dan harta benda akan meninggalkan kita setelah selesai penguburan. Tinggallah amal perbuatan yang menjadi teman.” Sang guru menerangkan. “Bila kita banyak membawa amal saleh, dengan hati yang ikhlas dan bersih, maka suasana di alam kubur adalah gambaran-gambaran kebaikan, ruangan yang luas, terang benderang, bersinar indah, harum dan semerbak, laksana sebuah taman di antara taman-taman syurga, tetapi sebaliknya, bila yang dibawa seseorang adalah amal buruk, dosa-dosa dan kemaksiyatan, maka alam kuburnya adalah gambaran kenistaan, ruangan yang sempit menjepit, hitam gelap gulita, panas membakar, sunyi sepi mencekam, aroma busuk yang menusuk, serta ada yang bernama siksa kubur.” Sehingga, mereka para ahli kubur seperti ini senantiasa berharap-harap, segeralah kiamat, dengan harapan berakhirnya masa siksa mereka di alam kubur. Padahal selanjutnya setelah kiamat...

Tidak ada komentar: