“aku mbiyen ora ono
ning saiki dadi ono
mbesok aku ora ono
podo mbalik maring rahmatullah”
..............
"waktu antara azan dan iqamah"
Mas Poniman, seorang urban berasal dari Jawa. Bersama anak isterinya, tinggal di rumah kontrakan dekat musholla pada sebuah sudut kampung di Tangerang. Seringkali terdengar melantunkan puji-pujian seperti itu ketika usai azan. Seperti kebiasaan di kampung sejak lama, di setiap musholla atau masjid, waktu-waktu antara azan dan iqomah, terlebih setelah azan Maghrib, ‘Isya dan Subuh bukan semata-mata menunggu Imam salat. Waktu-waktu tersebut juga dimanfaatkan untuk berzikir, berdoa, sholawat dan mendendangkan puji-pujian. Puji-pujian untuk mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT., sholawat dan salam bagi baginda Rasulullah SAW. Pada umumnya dilakukan oleh anak-anak pengajian yang biasa datang pada waktu Maghrib hingga ba’da ‘Isya. Orang dewasa juga melantunkannya ketika anak-anak pengajian belum datang atau libur, juga pada waktu menjelang salat Subuh.
Pada masa sekarang, sholawat dan puji-pujian itu dilakukan dengan menggunakan pengeras suara. Sehingga gaung suaranya terdengar jauh dalam radius tertentu, karena tujuan lainnya adalah mengundang para tetangga dan jamaah salat yang belum datang. Atau sekaligus pemberitahuan bahwa salat belum dimulai. Sholawat dan puji-pujian itu banyak macamnya, dengan aneka ragam syair dan irama bahkan langgamnya. Pula mengandung makna dan maksud yang mendalam. Termasuk yang satu ini, --“aku mbiyen ora ono, ning saiki dadi ono, mbesok aku ora ono, podo mbalik maring rahmatullah”-- benar-benar mengesankan dan memiliki makna luas, menyentuh dan membangun kesadaran hati bagi mereka yang mengerti bahasa Jawa, mampu memaknai dan meresapinya.
“Yah... sekedar mengingatkan teman-teman yang berasal dari kampung, sambil mengenang masa kecil di Jawa.” kata mas Poniman sambil duduk bersila. Umumnya, warga di kampung-kampung di Tangerang memang heterogen, bahkan banyak yang berasal dari Pulau-pulau lain di luar pulau Jawa. Sebuah konsekwensi Tangerang sebagai kota Satelit. Terbanyak adalah saudara-saudara dari suku Jawa, di samping warga asli. “Mudah-mudahan mereka bisa teringat kembali waktu masa-masa kecil, terus terdorong untuk datang ke musholla dan salat berjama’ah.” katanya menambahkan. Sederhana saja alasan mantan karyawan perusahaan yang mengundurkan diri ini. Ya, mengundang para tetangga untuk solat berjama’ah melalui kenangan masa kecil. Sebab pada kenyataannya, acapkali jama’ah tak segera berangkat menuju mushalla atau masjid, meskipun suara azan telah beberapa saat berkumandang.
“aku mbiyen ora ono”
Mas Poniman bukan seorang penyanyi apalagi penyair, bukan guru apalagi ustaz, tetapi setidaknya masa kecilnya pastilah dia seorang santri. Dari bacaan-bacaan dan nada sholawat serta puji-pujian yang ia dendangkan memberi gambaran begitu. Lancar dan luwes. Gaung puji-pujian yang dilantunkannya membawa Hikmah. Jumlah jama’ah salat kemudian bertambah, sehingga mengubah bentuk dan jumlah shaf. Betapa tidak, --aku mbiyen ora ono-- adalah sebuah pengakuan sadar sepenuh hati, bahwa sesungguhnya adalah, kita-kita ini pada mulanya tidak ada, berada di mana kita pada saat tidak ada itu, dan berasal dari apa kita menjadi ada, untuk apa kita dijadikan ada, serta siapakah yang menciptakan kita menjadi ada.
Pertanyaan-pertanyaan ini telah memiliki jawaban mutlak yang kokoh tersimpan dalam batin dan meresap pada jiwa raga, bagi mereka yang sejak kecil telah belajar mengaji ketika di daerah asal. Hanya barangkali, beragam kesibukan dan aktifitas mereka --sebagai orang rantau yang dituntut berusaha dan bekerja keras-- yang seakan tiada henti ketika berada di perkotaan, ditambah lagi dengan lingkungan kerja atau aktifitas lain yang kurang kondusif bagi kesegaran rohani, membuat kesadaran dan pengertian tersebut agak terabaikan sehingga tak terjaga dan kurang terpelihara. Pengaruh teman, gemerlap gaya dan pola hidup metropolitan juga tak bisa dianggap kecil dalam hal ini. Betapa tipu daya, hiruk pikuk, kesenangan dan keindahan dunia telah membuat manusia gampang terpesona hingga akhirnya terpedaya. “...tiadalah kehidupan dunia itu, kecuali hanya kesenangan yang memperdayakan.” (QS-3:185).
Maka ketika mendengar kalimat --aku mbiyen ora ono-- yang ditembangkan dari mushalla atau masjid, seakan mereka terhenyak. Memori masa kecil serentak bangkit menghentak batin, menyentuh nurani, sehingga jiwa raga tergerak. Keseimbangan hati dan akal tertata kembali dan kesadaran terbangun. O, “Bagaimanakah kamu ingkar kepada Allah, padahal dulunya kamu mati (tidak ada), kemudian Allah menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu dan menghidupkan kamu kembali, kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” Sesungguhnyalah, ayat 28 surat Al Baqarah ini telah mereka fahami dengan pemahaman yang sebaik-baiknya. Insya Allah.
Jumat, 12 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar