kadangkala hati tak bisa diam, ada kata dan kalimat yang melintas, kalau di tangan ada kertas secarik, maka tertulislah dua tiga kata atau kalimat. kemudian terbuang dan hilang. mungkin tersimpan tetapi terselip pada tempat yang tak tentu, entah di mana, entah di mana... "o,ketimbang terbuang, mendingan tertuang"

bismillah! noe'ng di sini, di kebon besar. tangerang, maret 2010/rabi'ul awwal 1431

di dalamnya ada suka duka dan luka, ada cerita cinta dan cita, ada aku kau dan mereka.

Minggu, 28 Maret 2010

"Menjenguk Allah"

“Menjenguk Allah”

Sungguh, pada hari kiamat nanti, Allah SWT. akan bertanya kepada manusia,
“Wahai anak Adam, Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk?“
“Ya Robbi, bagaimana mungkin Engkau sakit, dan aku menjenguk, padahal engkau adalah Tuhan Penguasa seluruh alam ?” manusia balik bertanya.
Allah menjelaskan,
“Mengapa engkau tidak tahu ada seorang hambaKu, si Fulan yang sedang sakit dan engkau tidak menjenguknya !”
Kemudian Allah tambahkan,
“Apakah engkau tidak tahu, bila kau jenguk si Fulan yang sakit itu, niscaya kau akan mendapati Aku ada di sisinya. Yakni engkau akan mendapatkan pahala dari Ku yang tiada terhingga besarnya.

(diriwayatkan oleh Muslim. Sumber: Irsyadul ‘ibad halaman 28)

Rabu, 24 Maret 2010

"sembilan !"

“kamu dan dia, 9 !”
(bayangan khayal)
1
sama
seperti kamu
dia bukan pesolek
2
sama
seperti wajahmu
tanpa bedak lipstik
3
sama
seperti dirimu
tetap cantik menarik
4
sama
seperti caramu
tanpa aroma parfum
5
sama
seperti citramu
menebar aroma harum
6
sama
seperti gayamu
lembut tetapi lincah
7
sama
seperti sikapmu
selalu cerah semringah
8
sama
seperti padamu
aku amat mencintainya
9
sama
berarti bagiku
cintamu dan cintanya
10
sama
seperti mereka
aku hanya lelaki biasa

Rabu, 17 Maret 2010

"makhluk paling dahsyat...!" (1)

"manusia, apabila..."

Ketika Allah SWT. menciptakan Gunung, betapa kagum para Malaikat melihat ciptaan Allah ini. (Kokoh, tinggi, besar, kekar, tegar, tangguh, anggun dan berwibawa. Indah menawan, agung, megah, mewah, cantik dan mempesona), sehingga para Malaikat bertanya: "Wahai Tuhan kami",
"Adakah ciptaanMu yang lebih dahsyat dari Gunung ?"
"Ya, ada. Besi !"
"Adakah ciptaanMu yang lebih dahsyat dari Besi ?"
"Ya, ada. Api !"
"Adakah ciptaanMu yang lebih dahsyat dari Api ?"
"Ya, ada. Air !"
"Adakah ciptaanMu yang lebih dahsyat dari Air ?"
"Ya, ada. Angin !"
"Adakah ciptaanMu yang lebih dahsyat dari Angin ?"
"Ya, ada, anak Adam ! Manusia, apabila mereka memberi sedekah dengan tangan kanannya, mereka merahasiakannya dari tangan kirinya".
Demikian Allah menjelaskan kepada para malaikat. (Hadits Riwayat Imam Tirmizi)

Selasa, 16 Maret 2010

"2.000 !"

“2.000,- !“
(sebelum kenaikan...)

Pada suatu hari, pukul 13.05.
...
“Dua ribu !”
“Baik !” kuserahkan 2 lembar uang ribuan kepadanya, “jangan lupa, tolong berikan struk-nya !”
“Ya...” lantas ia memainkan mesin penghitung, agak lama kemudian menyerahkan struk yang kuminta.
“Ini pak!” Portal penghalang kendaraan lalu membuka.
“Terima kasih!” kataku menerima sepotong kertas, tapi aku tak segera beranjak, antrean sepeda motor di belakangku hanya ada 3 pengendara lain, --tidak panjang--, aku cermati kertas itu. Betul, di sana tertera tagihan Rp.2.000, untuk waktu selama 2.17.09. Lho, apa benar sepeda motorku berada di sana selama itu. Aku tahu persis, masuk ke pelataran parkir ini tadi, pukul 12.17. artinya tak sampai 1 jam hingga saat itu. Tapi mengapa Rp.2.000,- mengapa lebih dari 2 jam? ku teliti lagi angka-angka pada kertas itu. Nah, ini dia! “B 6xx6 CK”, tagihan ini ternyata bukan untukku, nomor polisi yang tertera bukan nomor sepeda motorku, B 6xx4 CQ . Tentu saja aku tak membiarkan hal ini.
“Lihat, ini untuk kendaraan lain.” sambil kukembalikan struk itu, dan kutunjukkan nomor polisi yang tertera di sana.
“Oh ya...maaf , seribu pak.” katanya (pura-pura) kaget, tapi tanpa mimik, tanpa ekspressi apa-apa di wajahnya. Acuh tak acuh saja, sambil mengembalikan uang seribu rupiah kepadaku. Akupun lupa bahwa ia belum memberikan struk sesuai yang kuminta.

Aku pun lalu beranjak dari sana, motorku melaju lambat, sambil tersenyum sendiri, entah senyum untuk apa, sebab pikiran dan persaanku mengambang melayang menerawang entah sampai ke mana. Aku hanya ingat, --tarif parkir untuk sepeda motor; 1 jam pertama Rp.1.000,- setiap 1 jam berikutnya, Rp. 500,-- seperti terpampang pada pintu masuk.
...
Hingga tiba-tiba “tidiiiittt !!!” aku dikejutkan bunyi klaskson sedan merah di belakangku. O, rupannya aku terlalu ke kanan di jalan raya...

Senin, 15 Maret 2010

"lagi, 2.000 !"

“2.000 !”
(sebelum kenaikan...)

Pada suatu hari yang tidak sama, di lokasi yang berbeda,
...
“Dua ribu bos!”
“coba lihat tiket masuk itu !” kataku sebelum menyerahkan jumlah rupiah yang ia sebutkan.
“oh ya,...” ia tampak mencermati kertas itu. Entah apakah ia bersungguh-sungguh dengan sikapnya itu.
“Nah, berapa rupiah tarif parkir di sini untuk 1 jam pertama?”
“Seribu rupiah !”
“Nah, berapa lama motor ini diparkir di sini?”
“Oh ya...ma’af bos, seribu rupiah.” jawabannya tak sesuai pertanyaanku.
“Apa benar hanya seribu rupiah?” aku menyindir.
“Ya bos...seribu rupiah saja !”
...
Motorku melaju lambat, sambil tersenyum sendiri, entah senyum untuk apa, sebab pikiran dan persaanku mengambang melayang menerawang entah sampai ke mana, aku hanya ingat, --tarif parkir, untuk sepeda motor, Rp.1.000,- untuk 2 jam pertama. Rp. 1.000,- untuk setiap 1 jam berikutnya, seperti terpampang pada pintu masuk. Dan pasti, aku parkir di sana kurang dari 1,5 jam. Mengantarkan dan menemani anakku yang telah kedinginan ketika baru setengah jam mandi dan bermain di kolam renang.

Minggu, 14 Maret 2010

"masih, 2.000 !"

“2.000 !”
(sebelum kenaikan...)

Pada suatu hari yang berbeda, di lokasi yang lain,
...
“ Dua ribu pak !”
“Ini” kuserahkan 2 lembar uang ribuan kepadanya.
“Silakan !” katanya sambil menerima uang itu. Sepeda motorku diminta untuk ke luar arena. Portal penghalang kendaraan terangkat ke atas dan membuka.
“Sebentar, anda belum memberikan struknya.”
“Ma’af pak, di belakang masih banyak kendaraan!”
“Ya, ya..., tapi anda belum memberikan struk tanda terima pembayaran.”
“Kamu mau apa?” ia berkata kasar, seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu keluar dan mendekatiku, dengan gagah dan mata menajam.
“Berapa rupiah tarif parkir di sini untuk 1 jam pertama?” aku mencoba tenang.
“Berapa lama kamu parkir, hah ?!” ia tampak emosi.
“Lho, apa anda tak teliti tiket masuk tadi?” tanyaku tegas.
“Teliti apa, apa yang diteliti ?!” ia mulai ngawur.
“Lihat baik-baik, pada tiket masuk tadi,” kataku tetap tenang.
“Apa yang dilihat ?!”
“Pukul berapa tadi motor ini ...”
“Ah sudah, bayar dulu dua ribu !” ia memotong kalimatku.

Tiiit...tiitt...tiittt... antrean motor di belakangku mulai tak sabar.
Seorang pengendara yang antre ku lihat turun dari sepeda motornya, berjalan hendak mendekat dan terlihat penasaran.
“Ada apa ini...” barangkali begitu dalam hatinya.

Petugas dari Satpam berlari, menuju ke arah kami berdua. Melalui perdebatan kecil, ditengahi pak Satpam, akhirnya aku ada di pihak yang benar. Kemudian hanya membayar seribu rupiah.
...
Motorku melaju lambat, sambil tersenyum sendiri, entah senyum untuk apa, sebab pikiran dan persaanku mengambang melayang menerawang entah sampai ke mana, aku hanya ingat, --tarif parkir sepeda motor, Rp.1.000,- untuk 1 jam pertama Rp. 500,-- setiap 1 jam berikutnya, seperti terpampang pada pintu masuk. Dan di sana, aku parkir tidak lebih dari 45 menit. –setelah tak menemukan kaset Ona Sutra yang kucari- Meskipun insiden tadi menyita waktu sekitar 10 menit.

"sekali lagi, 2.000 !"

“2.000 !”
(sebelum kenaikan...)

Pada suatu hari yang lain, di lokasi yang tidak sama,
...
“Dua ribu rupiah !”
“Baik, ini...!” ku serahkan selembar uang lima ribuan kepadanya.
“Terima kasih !” sambil ia menyerahkan uang kembali tiga ribu rupiah, disatukan dengan struk tanda terima pembayaran. Portal penghalang terangkat ke atas dan membuka.
Aku beranjak. Enteng saja. Tanpa masalah. Tanpa insiden. Hanya sedikit rasa mengganjal.
...
Motorku melaju normal. Tak lambat, juga tak terlalu cepat. Wajar-wajar saja, meskipun aku tahu, --tarif parkir untuk sepeda motor: Rp.1.000,- untuk 2 jam pertama, Rp. 500,- untuk setiap 1 jam berikutnya, seperti terpampang pada pintu masuk. Sementara aku parkir di sana, --menjenguk kerabat yang sakit—tidak sampai 2 jam. Dan di belakangku, isteriku ikut serta.
...
Motorku terus melaju. Aku tak merasakan dan memikirkan apa-apa. Bukan aku lupa untuk memeriksa struk parkir tadi, aku sengaja mengabaikannya. Aku hanya tahu, tak ingin terlihat berselisih dengan orang lain, di hadapan isteriku.

Sabtu, 13 Maret 2010

"ketimbang terbuang, mendingan tertuang"

“ ketimbang terbuang, mendingan tertuang “

dari asa yang terselip
dari rasa yang tercecer
dari kata yang terserak
dari suara yang terbuang
___________________________________________________

assalamu'alaikum warahmatullhai wabarakatuh
selamat pagi siang petang sore malam pagi lagi
berawal dari bismillah berjalan dengan bismillah
berlanjut pada bismillah berakhir dalam bismillah !

kadangkala hati tak bisa diam, ada kata dan kalimat yang melintas. kalau di tangan ada kertas secarik, maka tertulis sekedar dua tiga kata atau kalimat. kemudian terbuang dan menghilang. mungkin tersimpan, tetapi terselip di tempat yang tak tentu. entah di mana, entah di mana.
o, ketimbang terbuang, mendingan tertuang

bismillah!
noe’ng di sini,
di kebon besar, tangerang, maret 2010/rabi’ul awal 1431
___________________________________________________
di dalamnya,
ada suka duka dan luka
ada cerita cinta dan cita
ada aku kau dan mereka

Jumat, 12 Maret 2010

"aku mbiyen ora ono..." (1)

“aku mbiyen ora ono
ning saiki dadi ono
mbesok aku ora ono
podo mbalik maring rahmatullah”
..............

"waktu antara azan dan iqamah"

Mas Poniman, seorang urban berasal dari Jawa. Bersama anak isterinya, tinggal di rumah kontrakan dekat musholla pada sebuah sudut kampung di Tangerang. Seringkali terdengar melantunkan puji-pujian seperti itu ketika usai azan. Seperti kebiasaan di kampung sejak lama, di setiap musholla atau masjid, waktu-waktu antara azan dan iqomah, terlebih setelah azan Maghrib, ‘Isya dan Subuh bukan semata-mata menunggu Imam salat. Waktu-waktu tersebut juga dimanfaatkan untuk berzikir, berdoa, sholawat dan mendendangkan puji-pujian. Puji-pujian untuk mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT., sholawat dan salam bagi baginda Rasulullah SAW. Pada umumnya dilakukan oleh anak-anak pengajian yang biasa datang pada waktu Maghrib hingga ba’da ‘Isya. Orang dewasa juga melantunkannya ketika anak-anak pengajian belum datang atau libur, juga pada waktu menjelang salat Subuh.

Pada masa sekarang, sholawat dan puji-pujian itu dilakukan dengan menggunakan pengeras suara. Sehingga gaung suaranya terdengar jauh dalam radius tertentu, karena tujuan lainnya adalah mengundang para tetangga dan jamaah salat yang belum datang. Atau sekaligus pemberitahuan bahwa salat belum dimulai. Sholawat dan puji-pujian itu banyak macamnya, dengan aneka ragam syair dan irama bahkan langgamnya. Pula mengandung makna dan maksud yang mendalam. Termasuk yang satu ini, --“aku mbiyen ora ono, ning saiki dadi ono, mbesok aku ora ono, podo mbalik maring rahmatullah”-- benar-benar mengesankan dan memiliki makna luas, menyentuh dan membangun kesadaran hati bagi mereka yang mengerti bahasa Jawa, mampu memaknai dan meresapinya.

“Yah... sekedar mengingatkan teman-teman yang berasal dari kampung, sambil mengenang masa kecil di Jawa.” kata mas Poniman sambil duduk bersila. Umumnya, warga di kampung-kampung di Tangerang memang heterogen, bahkan banyak yang berasal dari Pulau-pulau lain di luar pulau Jawa. Sebuah konsekwensi Tangerang sebagai kota Satelit. Terbanyak adalah saudara-saudara dari suku Jawa, di samping warga asli. “Mudah-mudahan mereka bisa teringat kembali waktu masa-masa kecil, terus terdorong untuk datang ke musholla dan salat berjama’ah.” katanya menambahkan. Sederhana saja alasan mantan karyawan perusahaan yang mengundurkan diri ini. Ya, mengundang para tetangga untuk solat berjama’ah melalui kenangan masa kecil. Sebab pada kenyataannya, acapkali jama’ah tak segera berangkat menuju mushalla atau masjid, meskipun suara azan telah beberapa saat berkumandang.

“aku mbiyen ora ono”

Mas Poniman bukan seorang penyanyi apalagi penyair, bukan guru apalagi ustaz, tetapi setidaknya masa kecilnya pastilah dia seorang santri. Dari bacaan-bacaan dan nada sholawat serta puji-pujian yang ia dendangkan memberi gambaran begitu. Lancar dan luwes. Gaung puji-pujian yang dilantunkannya membawa Hikmah. Jumlah jama’ah salat kemudian bertambah, sehingga mengubah bentuk dan jumlah shaf. Betapa tidak, --aku mbiyen ora ono-- adalah sebuah pengakuan sadar sepenuh hati, bahwa sesungguhnya adalah, kita-kita ini pada mulanya tidak ada, berada di mana kita pada saat tidak ada itu, dan berasal dari apa kita menjadi ada, untuk apa kita dijadikan ada, serta siapakah yang menciptakan kita menjadi ada.

Pertanyaan-pertanyaan ini telah memiliki jawaban mutlak yang kokoh tersimpan dalam batin dan meresap pada jiwa raga, bagi mereka yang sejak kecil telah belajar mengaji ketika di daerah asal. Hanya barangkali, beragam kesibukan dan aktifitas mereka --sebagai orang rantau yang dituntut berusaha dan bekerja keras-- yang seakan tiada henti ketika berada di perkotaan, ditambah lagi dengan lingkungan kerja atau aktifitas lain yang kurang kondusif bagi kesegaran rohani, membuat kesadaran dan pengertian tersebut agak terabaikan sehingga tak terjaga dan kurang terpelihara. Pengaruh teman, gemerlap gaya dan pola hidup metropolitan juga tak bisa dianggap kecil dalam hal ini. Betapa tipu daya, hiruk pikuk, kesenangan dan keindahan dunia telah membuat manusia gampang terpesona hingga akhirnya terpedaya. “...tiadalah kehidupan dunia itu, kecuali hanya kesenangan yang memperdayakan.” (QS-3:185).

Maka ketika mendengar kalimat --aku mbiyen ora ono-- yang ditembangkan dari mushalla atau masjid, seakan mereka terhenyak. Memori masa kecil serentak bangkit menghentak batin, menyentuh nurani, sehingga jiwa raga tergerak. Keseimbangan hati dan akal tertata kembali dan kesadaran terbangun. O, “Bagaimanakah kamu ingkar kepada Allah, padahal dulunya kamu mati (tidak ada), kemudian Allah menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu dan menghidupkan kamu kembali, kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” Sesungguhnyalah, ayat 28 surat Al Baqarah ini telah mereka fahami dengan pemahaman yang sebaik-baiknya. Insya Allah.

"ning saiki aku ono..." (2)

“ning saiki dadi ono”

Kemudian --“ning saiki dadi ono”-- ketika sang ibu melahirkan. Selanjutnya seseorang menyadari keberadaannya. Dari sinilah bermula, ketika seseorang menyadari keberadaannya di dunia ini. Bagi mereka yang belajar mengaji, kesadaran ini sudah ditanamkan oleh orangtua dan guru-guru di majlis pengajian. Dari mana kita berada, bagaimana kita dibuat ada, mengapa kita ada dan untuk apa kita ini ada. Lalu, apa yang harus dan tidak harus dilakukan, mengapa ada yang harus dan tidak harus dilakukan, apa tujuannya dan kepada siapa ditujukan. Hanya dengan belajar dan berfikir, merasa dan meresapi, pengamalan dan pengalaman, pengetahuan dan pemahaman yang disertai sentuhan hati yang teramat mendalam, baru semua itu dapat dijelaskan. Tentu juga dipadukan dengan amal yang sesuai syari’at dan petunjuk dalam Al Qur’an dan Assunnah. Ya, ilmu amaliyah dan amal ilmiyah. Tepatnya, hanya dengan Hidayah dari Allah SWT.

Segala macam ketersediaan telah ada di hadapan, menyongsong kehadiran manusia di bumi ini. Berbagai-bagai macam kelengkapan dan fasilitas, sarana dan prasarana, yang bernama sumber daya alam. Sumber daya alam biotik –-nabati dan hewan-- dan sumber daya alam abiotik. Berbagai bentuk, bermacam rupa, beraneka warna dan beragam jenis serta kegunaan dan manfaat dari seluruh ketersediaan itu. “Dia yang yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan untukmu, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya untukmu, dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian Kami tumbuhkan dengan air itu, bermacam-macam jenis tumbuh-tumbuhan. Makanlah dan gembalakan hewan-hewanmu, sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal.” (QS-20:53-54).

Penciptaan manusia juga dilengkapi dengan bentuk dan anggota tubuh yang sempurna. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu kamu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, kemudian Allah memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS-16:78). Seseorang dapat bernafas, bergerak, berusaha dan bekerja. Serta kelengkapan --yang tidak diberikan kepada makhluk lain-- berupa daya fikir, rasa dan karsa. ”Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS-95:4). Dengan seluruh kelengkapan itulah manusia dihadirkan di dunia, dan diberi tanggungjawab untuk mengelola, mengolah, memberdayakan dan memanfaatkan segala sumber daya yang telah di hadapannya, dengan ketentuan dan batas-batas yang telah ditetapkan. Sehingga mendatangkan kebaikan, kemakmuran dan kesejateraan, serta tercipta keseimbangan yang harmonis bagi manusia dan alam.

Terkenang-kenanglah kembali kehidupan masa kecil di kampung. Terbayang-bayanglah lagi keindahan suasana pagi siang dan petang di desa. Menggembala kerbau, atau menggiring itik di pematang. Mencangkul di sawah atau bercocok tanam di kebun, menyabit rumput atau mencari kayu bakar. Bersekolah di pagi hari dan mengaji di musholla sesudah salat Maghrib. Terngiang-ngianglah kembali kalimat yang dijelaskan guru mengaji, untuk mendengarkan apa telinga digunakan, untuk memperhatikan apa mata dimanfaatkan serta bagaimanakah fungsi dan peran hati nurani seseorang dalam membangun iman.

“Kesemuanya itu, bila dimanfaatkan dan difungsikan dengan benar sesuai petunjuk Al Qur’an dan Assunnah, maka itulah hakikat bersyukur” kata sang guru. Dan jangan lupa, “aku tiada menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaku.” Beliau mengutip surat Azzariyat ayat 56 dan kemudian mengakhiri pengajian yang hangat pada malam itu.

"mbesok aku ora ono..." (3)

"mbesok aku ora ono"

Hidup adalah tidur panjang, seseorang baru terjaga ketika kematian datang kepadanya. Ketika mati – lah kita baru tersadar apa yang kita lakukan sepanjang hidup di dunia. Ingat mati. Ya, pada akhirnya kita-kita manusia ini akan kembali menjadi tidak ada, -mati- nyawa terlepas dari badan, dan meninggalkan dunia dengan segala keindahan yang sangat mempesona ini, --mbesok aku ora ono-- sebuah kesadaran akan datangnya kematian. Kematian akan datang kepada siapapun. “Setiap yang bernyawa, akan merasakan mati...” (QS-3:185). Orang kaya atau miskin, orang muda atau dewasa, semua akan mati. Tidak lebih dulu menimpa yang lebih tua, atau mereka yang sakit keras. Kematian datang tiada terduga. Bukan lantaran telah lanjut usia, tetapi juga misalnya, oleh karena bencana, kecelakaan atau mungkin serangan jantung. Bahkan mati tanpa sebab, kecuali karena memang ajal telah tiba.

Ingat mati. Bila ajal telah tiba, maka matilah. “Dan setiap ummat mempunyai ajal (batas waktu), maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat-pun dan tidak dapat meminta percepatan sesaat-pun.” (QS-7:34). Bila seseorang senantiasa ingat dan menyadari bahwa kematian pasti terjadi, dan tanpa diketahui kapan waktunya, praktis otomatis maka dia akan berhitung, melakukan muhasabah, -introspeksi diri dan koreksi ke dalam-. Kebajikan apa yang sudah diperbuat, kebaikan apa yang telah dilakukan, amal saleh apa yang pernah dikerjakan. Bagi keluarga, bagi masyarakat dan bagi orang-orang di sekitar, serta bagi dirinya sendiri. Padahal kematian tak dapat dihindari. Seseorang tak dapat melarikan diri dari mati. “Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, mati pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Allah beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan” (QS-62:8).

Ingat mati. Berbeda cara kematian antara mereka yang banyak kebajikannya dengan mereka yang banyak maksiyat. “Malaikat ‘Izra-il akan datang dengan senyum, sikap santun dan menyampaikan salam, ketika akan mencabut ruh orang-orang yang saleh.” Guru mengaji menjelaskan. Lalu ditambahkan, “sebaliknya, dia akan datang dengan cemberut, muka masam dan tak perlu sopan santun, untuk mencabut mereka yang banyak dosa.” Terngiang sebuah lagu religi yang mengalun dengan nada lirih, lembut, penuh kesyahduan, namun tegas berisi peringatan.
“bila ‘Izrail datang memanggil
jasad terbujur di pembaringan
seluruh tubuh akan menggigil
sekujur badan akan kedinginan”

O, mati. Bekal apakah yang telah kita persiapkan untuk menghadapinya. “Hiduplah dengan benar, kerjakan segala apa yang menjadi perintah Allah dan jauhkan semua yang menjadi laranganNya, inilah yang disebut bertaqwa. “Persiapkanlah bekal, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepadaku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS-2:197)
Bawalah Iman ke manapun kalian pergi dan di manapun kalian berada”. Kata guru berpesan. “Hanya itulah bekal kalian untuk mengahapi kematian, sehingga malaikat ‘Izrail nanti akan datang kepadamu dengan senyum”.

"podo mbalik maring rahmatullah..." (4)

“podo mbalik maring rahmatullah”

Dari tiada, -mati- lalu Allah ciptakan menjadi ada, -hidup- kemudian Allah matikan lagi, lalu Allah hidupkan lagi setelah kematian itu. Kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan. “Bagaimanakah kamu ingkar kepada Allah, padahal dulunya kamu mati (tidak ada), kemudian Allah menghidupkan kamu, kemudian Allah mematikan kamu dan menghidupkan kamu kembali, kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” (QS-2:28). Jadi, ke manakah kita-kita manusia ini kembali atau berpulang? –podo mbalik maring rahmatullah- kembali ke haribaan kasih sayang Allah.

“Dunia memang diciptakan indah dan mempesona, membuat hati manusia jatuh cinta pada kehidupan dunia, dan tak ingin meninggalkannya.” Kata Ustaz, “Perempuan, anak-anak dan harta benda, itulah di antara sekian banyak perhiasan dunia yang menyenangkan, tetapi jangan lupa, semua itu hanyalah permainan belaka.” Ingat firman Tuhan, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa yang diinginkan, yaitu perempuan, anak-anak dan harta yang banyak dalam bentuk emas, perak, kuda-kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah – lah tempat kembali yang baik.” (QS-3:14). Kemudian masalahnya sekarang, sudah siapkah kita untuk kembali kepadaNya. Perbekalan apa yang sudah ada pada kita?

Pintu pertama kita menuju kepulangan kepada Allah SWT., adalah kematian. Maka katakanlah, “...Inna lillahi wa inna ilaih roji’un.” –sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali kepadaNya--.” (QS-2:). Mati, setelah dimandikan, dikafani dan disalatkan lalu jenazah digotong dengan keranda menuju tanah pekuburan. Lubang kubur sudah dipersiapkan, dengan ukuran jauh lebih kecil dari rumah kita ketika masih hidup, bahkan juga jauh lebih kecil dari kamar tidur. Di lubang itulah jenazah kita dibaringkan, lalu tanah ditutup, ditimbun kembali dan dipadatkan. Tinggallah kita di dalamnya sendirian, dalam sebuah ruang yang amat sempit, kecil dan gelap gulita.

Ada tiga hal yang mengantar jenazah menuju tanah pekuburan, yaitu keluarga, harta benda dan amal perbuatan sepanjang kita hidup di dunia. “Keluarga dan harta benda akan meninggalkan kita setelah selesai penguburan. Tinggallah amal perbuatan yang menjadi teman.” Sang guru menerangkan. “Bila kita banyak membawa amal saleh, dengan hati yang ikhlas dan bersih, maka suasana di alam kubur adalah gambaran-gambaran kebaikan, ruangan yang luas, terang benderang, bersinar indah, harum dan semerbak, laksana sebuah taman di antara taman-taman syurga, tetapi sebaliknya, bila yang dibawa seseorang adalah amal buruk, dosa-dosa dan kemaksiyatan, maka alam kuburnya adalah gambaran kenistaan, ruangan yang sempit menjepit, hitam gelap gulita, panas membakar, sunyi sepi mencekam, aroma busuk yang menusuk, serta ada yang bernama siksa kubur.” Sehingga, mereka para ahli kubur seperti ini senantiasa berharap-harap, segeralah kiamat, dengan harapan berakhirnya masa siksa mereka di alam kubur. Padahal selanjutnya setelah kiamat...

Jumat, 05 Maret 2010

"asyaddu hubban lillah"

“samudera cinta"

kala pagi indah berseri, sang pecinta
kala siang cerah semringah, sang majnun
kala senja teduh temaram, sang kasmaran
kala malam syahdu menderu, sang kepayang

manakah kisah cintamu
apakah engkau sedang sibuk
merajuk
asyik masyuk
yang paling jauh
yang paling dalam
yang paling panjang
tenggelam di dalam lautan
samudera ‘asyaddu hubban lillah’

manakah kabar beritamu
apakah engkau sedang mabuk
memadu
dendam rindu
yang paling indah
yang paling nikmat
yang paling khusyuk
melayang di ruang angkasa
cakrawala ‘asyaddu hubban lillah’

manakah duka deritamu
apakah engkau sedang larut
merasa
melumat hasrat
yang paling kuat
yang paling lebat
yang paling dahsyat
mengembara di tengah rimba
belantara ‘asyaddu hubban lillah’

cintamu mendendam, sang pecinta
rindumu menghunjam, sang majnun
anganmu melambung, sang kasmaran
hasratmu menggunung, sang kepayang

aduhai,
ajaklah aku
dalam asyik masyuk
dendam rindu lumat hasratmu
bawalah aku
pada samudera
cakrawala belantara
menuju ‘asyaddu hubban lillah’

noe'ng, maret 2010