kadangkala hati tak bisa diam, ada kata dan kalimat yang melintas, kalau di tangan ada kertas secarik, maka tertulislah dua tiga kata atau kalimat. kemudian terbuang dan hilang. mungkin tersimpan tetapi terselip pada tempat yang tak tentu, entah di mana, entah di mana... "o,ketimbang terbuang, mendingan tertuang"

bismillah! noe'ng di sini, di kebon besar. tangerang, maret 2010/rabi'ul awwal 1431

di dalamnya ada suka duka dan luka, ada cerita cinta dan cita, ada aku kau dan mereka.

Minggu, 22 Agustus 2010

"drama dari rimba" (2)

"arogansi"

Pada sebuah wilayah rimba, tiba-tiba terjadi konflik hebat, persaingan antar hewan untuk memperebutkan pengaruh di antara mereka. Mereka berlomba untuk mendapatkan pengakuan, siapa sebenarnya yang berhak disebut raja rimba. Entah untuk apa pengakuan itu. Apakah untuk legalisasi kepemimpinan dalam kehidupan rimba, atau untuk membentuk sebuah sistem, strategi dan taktik untuk membangun konfrontasi melawan makhluk asing bernama manusia. Entahlah...

Dalam propagandanya, seekor harimau menggunakan caranya sendiri, cara hewan.
...
(Dengan langkah tegap dan dada membusung, harimau berkeliling rimba dan mencari pendukung. Kepada setiap warga rimba yang ditemuinya, harimau mengaum keras, bertanya dan menuntut jawaban pasti. Hewan pertama yang ia temui adalah seekor kambing, yang tak sempat lari menghindar untuk bersembunyi).
“Hai kambing, siapa raja rimba !?” harimau menghardik dengan suara keras dan tegas.
(Kambing ketakutan, ia takut dimakan harimau, sekujur tubuhnya bergetar, kakinya lemas lunglai, ia coba menguasai diri, lalu menjawab):
“Oh..., tentu saja harimau ! harimau-lah sang raja rimba !”
“Ha ha ha...! bagus...! bagus...!! kata harimau sambil mengusap-usap kepala kambing.
...
(Harimau melanjutkan perjalanan, dengan langkah dan keyakinan penuh, ia kemudian memergoki seekor zebra yang tak waspada). Harimau mengaum dan segera bertanya:
“Hai zebra, siapa raja rimba !?” suaranya menggema, keras dan menakutkan.
(Sekujur tubuh zebra gemetar, ia takut diterkam, wajahnya pucat pasi, dikuat-kuatkan hatinya lalu menjawab dengan ketakutan):
“Oh..., harimau ! tentu saja harimau. engkau-lah raja rimba !”
“Ha ha ha...! bagus...! bagus...!! kata harimau sambil mengelus-elus kepala zebra.
...
(Harimau melanjutkan propaganda, ia terus menyusuri hutan dengan hati berbunga-bunga dan keyakinan bertambah, bertemulah ia dengan seekor bebek yang santai-santai saja, meski ia tahu kedatangan harimau). Tak lupa menggeram, harimau pun bertanya:
“Hai bebek, siapa raja rimba !?” suaranya keras dan mengancam.
(Bebek ini bebek tua, siap mati, sehingga tenang saja, ia mengepakkan sayap berputar ke kiri dan kanan, seakan menari-nari, acuh tak acuh, dengan nyaring ia menjawab):
“Ya..., siapa lagi, aku kan sudah tak pantas, sebab aku sudah tua. Jadi, engkau-lah harimau, raja rimba !”.
“Ha ha ha...! bagus...! bagus...!! kata harimau sambil meremas-remas kepala bebek dengan cakar-cakarnya yang runcing
(Sebenarnya harimau gemas dan agak marah. Tapi kali ini ia mencoba menahan diri, sebab sedang punya kepentingan besar).
"Lagi pula, siapa yang mau memangsa bebek tua, dagingmu pasti alot dan keras. Dasar bebek, tua-tua belagu !?" kira-kira demikian naluri hewannya menggumam geram.
...
(Harimau melanjutkan perjalanan, dengan dada makin membusung, langkah tegap dan keyakinan pasti, sampai bertemu seekor monyet). Ia mengaum dan bertanya dengan suara menggema:
“Hai monyet, siapa raja rimba !?”
(Monyet terkejut, ia takut dimangsa, badannya menggigil, tulang-tulangnya seakan rontok, monyet mencoba membangun kesadaran, dan masih kuat menjawab):
“Oh..., tentu saja engkau, tak pantas untuk yang lain, harimau-lah raja rimba !”
“Ha ha ha...! bagus...! bagus...!! kata harimau sambil mengusap-usap kepala monyet.
...
(Terus saja harimau berjalan dengan gagah, langkahnya bertambah pasti, keyakinannya bertambah penuh, sampai bertemu dengan seekor semut) kemudian ia-pun mengaum, dan berkata keras:
“Hai semut, siapa raja rimba !?”
(Semut kalangkabut, tapi tak sempat melarikan diri, cakar harimau terlalu dekat dengannya, kaki-kakinya gemetar, wajahnya pucat pasi, setelah menata keseimbangan diri, semut menjawab):
“Oh..., harimau, harimau-lah satu-satunya raja rimba, itu pasti !”.
“Ha ha ha...! bagus...! bagus...!! kata harimau sambil membelai-belai kepala semut.
...
(Harimau masih melanjutkan propaganda, ia terus melangkah dengan pasti, hatinya kian berbunga, hingga bertemu dengan seekor gajah yang sedang asyik membersihkan kuping dengan belalainya yang panjang dan lentur). Harimau mengaum sangat keras. Lalu bertanya:
“Hai gajah, siapa raja rimba !?”
(Gajah tenang-tenang saja, seperti tak mendengar ia tetap sibuk dengan kuping dan belalainya, dan... ia diam saja):
“ ..., ..., ... “ gajah tak menjawab
“Hai gajah, siapa raja rimba !?” suara harimau lebih keras.
“ ..., ..., ... “ acuh tak acuh, gajah tetap diam.
“Hai gajah, apakah kamu tuli, atau bisu, siapa raja rimba !?” harimau marah.
“..., ..., ... “ gajah berjalan maju, lebih dekat ke arah harimau.
...
(Merasa dirinya gagah dan kuat, harimau tak waspada tanpa curiga)
“ ..., ..., ... “ tanpa kata-kata, tanpa basa-basi.
(Sangat cepat, gajah menjulurkan belalainya yang panjang menyergap dan merenggut tubuh harimau. Belalai yang kuat tapi lentur itu membelit dan menggulung badan harimau sekuat-kuatnya).
...
(Harimau terkejut luar biasa, marah namun tak berdaya, kini wajahnya pucat pasi. Tanpa berkata apa-apa, gajah memutar-mutar harimau di udara. Tiga, empat, lima putaran... bruk !! Gajah membanting badan harimau ke bumi, sangat keras. Harimau mengerang kesakitan, ia bangun tetapi sempoyongan).
...
(Gajah mendekati lagi, membelt lagi badan harimau, memutar-mutarnya di udara dan...brukk !! Harimau makin kesakitan dan mengerang lagi. Ia bangkit, makin sempoyongan).
...
(Gajah datang lagi, menjulurkan belalai, membelit dan memutar-mutar badan harimau dan sekali lagi... brukkk !! Kini harimau tak mampu bangkit, ia sangat kesakitan, hingga mengerangpun ia tak kuat).
...
(Gajah mendekat lagi, kali ini ia membantu harimau untuk bangun dan berdiri, kataya):
“Ayo bangun !”
(Harimau lemas tak berdaya, wajahnya biru lebam, hilang keseimbangan, harimau berdiri dengan pertolongan gajah. Tulang-tulangnya terasa remuk redam, kakinya goyang menahan beban badan yang besar. Harimau berdiri dengan lunglai. Gajah kemudian mendorong badan harimau, lalu berkata tegas):
“Pergilah kau !!”
...
(Harimau berjalan pelan, gontai dan sempoyongan, sekujur tubuh sakit luar biasa, kepala pening, pandangan berkunang-kunang. Namun harimau masih sempat menggerutu, dengan suara yang nyaris tak terdengar...):
“Gajah,... payah gajah... tak bisa menjawab, kok malah marah-marah...”
“ ..., ..., ..., “
(Rimbun pepohonan, hijau dedaunan, lebat semak belukar,... menjadi saksi, betapa arogansi kemanusiaan telah masuk, merasuk dan merusak dunia rimba...)

(Seisi rimba ribut, kalut kalangkabut, mengapa gajah dan harimau bergelut, drama masih berlanjut...)

Tidak ada komentar: