"interaksi"
Hutan rimba belantara, adalah hutan yang ditumbuhi berbagai jenis pohon besar dan kecil. Lebat dan rimbun menghijau sepanjang tahun. Tumbuhan kecil dan akar-akar membentuk semak belukar. Ada danau dan sungai-sungai di dalamnya, dengan air yang jernih mengalir deras, kecipak dan gemericik yang khas. Sisi-sisi sungai yang landai dan tebing terjal menciptakan air terjun-air terjun yang bergemuruh dahsyat. Indah menawan dan luar biasa mempesona.
Manusia tak boleh menghuni hutan rimba belantara. Bentang alam hutan, kondisi cuaca dan udara hutan akan membuat mereka kesulitan dan tersiksa. Kalaupun bisa, dikhawatirkan manusia tak mampu memelihara keindahan dan kelestarian rimba. Mereka tak akan sanggup menata keseimbangan ekosistem yang berlangsung di hutan belantara.
Ada makhluk lain yang lebih berhak untuk menjadi penghuni rimba, sekaligus menjadi penjaga keindahan dan kelestarian rerimbunan hutan. Mereka adalah para hewan. Ya, selain tumbuh-tumbuhan yang ada di dalamnya, hanya hewan-lah yang bisa memelihara keindahan dan kelestarian hutan, sekaligus mereka adalah keindahan dan habitat rimba belantara itu sendiri. Hewan-hewan itu banyak macam jenisnya, bentuknya, keturunan dan rasnya, rupa warna kulitnya, cara hidupnya, dan bermacam pula cara berkembang biak serta watak naluri dan sifatnya.
Bila teringat singa, harimau, gajah, banteng, bison, kerbau, buaya, biawak, landak dan kadal, itu baru sebagian sangat kecil. Atau tokek, kelelawar, kalong, kampret, laba-laba, tupai, bajing, jangkrik dan kodok, itu belum seberapa. Bila teringat anjing, srigala, panther, rubah, musang, kucing, monyet, kuskus dan tikus, juga belum seberapa. Kemudian, cendrawasih, merak, tekukur, perkutut, kutilang, kuntul dan belekok, itu hanya sebagian sangat kecil. Atau kelabang, kalajengking, trenggiling, curut dan nyingnying, itu juga sebagian sangat kecil. Lalu ada kepiting, cumi-cumi, ubur-ubur, kura-kura, penyu, bekicot, bawal dan bloksok, piranha dan arwana, maka itu juga belum seberapa. Sebab tak mungkin menghitung dan menebak demikian banyak jumlah ragam rupa warna dan jenis-jenis satwa, apalagi di hutan.
“Manusia ingin menghuni hutan?”. Oh, tak bisa dibayangkan. Tetapi manusia, ya manusia. Makhluk paling pintar, paling sempurna, dan paling hebat. Tetapi dengan kepintaran dan kehebatannya, mereka sering bertindak berlebihn. Begitulah, maka drama ini bermula.
Manusia memang tak sanggup tinggal di hutan. Tetapi bukan tak ingin. Bukan hanya ingin tinggal di hutan, manusia juga ingin menguasai dan memiliki rimba belantara. Entah apa yang mereka cari dengan menguasai hutan. Manusia melakukan eksplorasi dan eksploitasi terhadap hutan. Perambahan, penebangan, pembalakan, pembakaran dan penggundulan. Segala kelakuan dan sepak terjang manusia ini membuat penghuni rimba tak mengerti, sebagian ada yang panik. "Apa yang kalian cari wahai manusia !?" Perlakuan manusia terhadap hutan telah mengganggu habitat berbagai pola kehidupan dunia flora dan fauna serta merusak tatanan dan ekosistem yang berlaku di rimba.
Hewan-hewan yang merasa terganggu kenyamanan hidupnya di hutan, berbalik dan merambah memasuki kehidupan manusia. Gajah, macan bahkan babi hutan masuk kampung mencari makanan karena di hutan mereka mulai kekurangan. Mereka merusak sejumlah lahan perkebunan milik manusia. Kumbang hutan, walang sangit dan serangga lain juga akhirnya kalap, mereka keluar hutan, hinggap dan menyerang tanaman-tanaman di wilayah pertanian yang dikelola oleh manusia. Bahkan menggigit pemiliknya, sampai manusia terserang penyakit-penyakit aneh.
Begitulah, meskipun berawal dari rasa tak suka dan permusuhan, akhirnya terjadilah interaksi antar manusia dan hewan. Manusia marah dan menyerang hewan-hewan yang merusak perkebunan, macan dan babi hutan mereka buru dan ditembak mati, berbagai jenis serangga hutan dibasmi, namun tak habis-habis, macan dan babi semakin ganas, dan serangga kian beringas. Inilah bentuk interaksi awal antara hewan hutan dengan manusia. Langsung atau tak langsung. Konsekwensi sebuah interaksi adalah munculnya perubahan sikap, perilaku dan pola hidup, pada masing-masing pihak, karena terjadinya proses saling mempengaruhi. Yaitu, bahwa kemudian manusia tak kalah ganas dari hewan, dan hewan tak kalah pintar dari manusia. Perilaku dan insting hewaniah menular kepada banyak manusia. Sikap, naluri dan mentalitas manusia berpindah kepada hewan, sang penghuni hutan rimba. Luar biasa.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
1 komentar:
tapi ane manusia juga nih... tapi bukan dibelatara tapi dihutan.... disemak, blukar, di jalan... gunung....
giman dong....
Posting Komentar