kadangkala hati tak bisa diam, ada kata dan kalimat yang melintas, kalau di tangan ada kertas secarik, maka tertulislah dua tiga kata atau kalimat. kemudian terbuang dan hilang. mungkin tersimpan tetapi terselip pada tempat yang tak tentu, entah di mana, entah di mana... "o,ketimbang terbuang, mendingan tertuang"

bismillah! noe'ng di sini, di kebon besar. tangerang, maret 2010/rabi'ul awwal 1431

di dalamnya ada suka duka dan luka, ada cerita cinta dan cita, ada aku kau dan mereka.

Jumat, 02 April 2010

"Dunia, I Love You !" (1)

“Tentang Sepotong Roti”

Suatu ketika, seorang lelaki datang menghampiri nabi Isa AS, dan berkata: “Wahai nabi Allah, aku ingin selalu bersama dan berteman denganmu!”
“Silakan!” demikian kira-kira nabi Isa menyambut.
Selanjutnya lalu mereka berjalan bersama, dan sampailah di sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Sambil duduk-duduk di tepi sungai, nabi Isa AS mengeluarkan roti, ada 3 potong. Kemudian mereka makan roti itu. Tersisa sepotong, sebab masing-masing hanya makan satu potong ketika itu.

Kemudian nabi Isa AS berdiri dan berjalan menuju sungai dan minum air di sana. Beberapa saat kemudian beliau kembali ke tempat semula. Dan ternyata, sepotong roti yang tersisa tadi, sudah tidak ada pada tempatnya. Sementara temannya sendirian tetap di sana. Melihat kenyataan ini, beliau lalu bertanya, “di manakah sepotong roti tadi, siapa yang mengambilnya?” dengan kalem, lelaki itu menjawab, “oh, saya tidak tahu!”

Sudahlah. Selanjutnya nabi Isa berjalan lagi, lelaki itu mengikutinya. Dalam perjalanan, mereka melihat seekor induk menjangan dengan 2 anaknya. Nabi Isa memanggil, dan seekor anak menjangan datang mendekat, lalu ditangkap dan disembelih. Dagingnya dipanggang, dan dimakan bersama oleh nabi Isa dan temannya. Habis ! hingga hanya tersisa tulang belulang belaka. Selanjutnya di hadapan sisa-sisa makanan itu, nabi Isa AS berkata, “Bismillahirrahmanirrahim, dengan izin Allah, hidup dan bangunlah!” maka kemudian tulang belulang hidup kembali menjadi anak menjangan seperti semula, bangun berdiri dan berlari. Nabi Isa berkata kepada temannya, “demi Zat yang telah memperlihatkan tanda kekuasaanNya ini di hadapanmu, aku bertanya kepadamu, siapakah yang mengambil sepotong roti yang tersisa tadi?” Lelaki itu tenang menjawab, “saya tidak tahu.”

Apa boleh buat. Perjalanan berlanjut hingga menjumpai sebuah sungai, dan mereka akan menyeberangi sungai itu, tetapi tak ada alat -seperti batang pohon, kayu atau lainnya- untuk menyeberang. Serentak nabi Isa meraih tangan temannya dan mengucapkan, “bismillahirrahmanirrahim”. Nabi Isa membawa temannya itu berjalan bersama-sama, meniti permukaan air sungai, dan sampailah ke seberang. Sekali lagi nabi Isa berkata kepada lelaki itu, “demi Zat yang telah memperlihatkan tanda kekuasaanNya ini di hadapanmu, aku bertanya kepadamu, siapakah yang memakan sepotong roti yang tersisa tadi?” Lagi-lagi sang teman menjawab, “saya tidak tahu.”

Ya, mau apa lagi. Perjalanan terus berlanjut, dan tiba di sebuah tanah lapang. Di sana mereka duduk beristirahat. Seraya nabi Isa AS mengambil dan mengumpulkan butiran-butiran debu dan kerikil. Ke arah tumpukan debu dan kerikil tersebut, nabi Isa berkata, “Bismillahirrahmanirrahim, dengan izin Allah, jadilah emas !” Dengan kekuasaan Allah, kini terdapatlah gundukan emas di hadapan mereka. Kemudian nabi Isa membaginya menjadi 3 bagian. Lelaki itu bertanya,
“Mengapa engkau membaginya menjadi 3 bagian ?”
“Tak mengapa...”
“Tapi, bukankah kita hanya berdua ?”
“Dengarlah ! satu bagianku, satu bagianmu.”
“Ya, itu pasti. Tapi bagaimana dengan yang satu bagian ?”
“Nah, itu untuk seseorang yang mengambil sepotong roti !”
“Oh, ketahuilah wahai nabi, aku-lah yang mengambil roti itu !” lelaki itu mengakui perbuatannya tanpa nabi Isa bertanya.
"Ah, akhirnya engkau mengaku juga ! Baiklah, kalau begitu kuserahkan semua emas ini kepadamu ! kata nabi Isa, tanpa ekspresi agaknya.
Lelaki itu menerima sepenuhnya pemberian tersebut dengan hati berbunga-bunga, meskipun nabi Isa AS kemudian meninggalkannya sendirian.
...
..., ...

(diriwayatkan oleh Allaits, dari Jarir. Sumber: Irsyadul ‘ibad halaman 40)

Tidak ada komentar: