“Tiga Mayat Lelaki”
Dengan perasaan berbunga-bunga, betapa hatinya senang luar biasa. “Aduhai, alangkah indahnya dunia, dengan emas-emas ini aku akan menjadi orang kaya, hartaku berlimpah dan orang akan menaruh hormat berlebih padaku. Apapun keinginanku, tentu akan mudah terpenuhi. Oh, senangnya hidup kalau begini.” Demikian lelaki itu berkata dalam hati.
Ia masih melanjutkan perjalanan, terus menyusuri padang luas dan tanah lapang yang membentang di hadapannya. Sendirian, karena sekarang nabi Isa telah meninggalkannya.
Diriwayatkan, ketika dalam perjalanan itu, sekonyong-konyong muncullah dua orang yang tak dikenal. Ternyata mereka adalah perampok. Keduanya tahu bahwa lelaki itu membawa emas dalam jumlah banyak. Maka mereka langsung menghadang dan mengancam,
“Harta atau nyawa !?”
“Begini, bagaimana kalau emas ini kita bagi tiga saja ?” dalam situasi seperti itu ia mencoba menawarkan pendapatnya.
Kedua lelaki perampok itu terbelalak matanya, mereka saling pandang untuk mengetahui pendapat masing-masing mengenai tawaran lelaki itu. Bagaimana kalau emas-emas itu dibagi tiga saja. Tak lama kemudian keduanya saling mengangguk.
“Baiklah, kami setuju !”
Setelah ketiganya sepakat, kini mereka justru berteman dan berjalan bersama. Berjalan dan terus berjalan sepanjang tanah lapang, sampai waktunya tiba-tiba mereka merasa lapar.
“Wah, lapar !”
“Ya, kita harus membeli makanan.”
“Tapi siapa di antara kita yang harus berangkat ?”
“Dan siapa yang menjaga emas-emas kita ini ?”
“Mengapa kita tidak saling percaya ?”
Kali ini bertiga, mereka saling pandang satu sama lain. Setelah agak lama berunding, akhirnya dicapai juga kata sepakat. Lalu berangkatlah salah seorang di antara mereka menuju perkampungan terdekat, untuk mencari dan membeli makanan yang mengenyangkan.
Dalam perjalanan, terlintas fikiran dalam benak lelaki yang diutus membeli makanan, “Ah, mengapa bukan untukku sendiri saja semua emas itu, aku akan mendapatkan lebih banyak dibandingkan bila harus dibagi 3 bagian. Bukankah itu lebih baik ?” demikian fikiran lelaki itu. “Ya, aku bisa memasukkan racun mematikan dalam makanan untuk mereka nanti, sedangkan aku bisa makan lebih dulu di tempat membeli makanan.” Lelaki itu menemukan cara untuk membunuh 2 temannya yang tengah menanti makanan yang dibelinya.
Dalam pada itu, mereka berdua yang tengah menjaga emas, ternyata juga sedang memikirkan hal yang sama. Mereka saling mengutarakan maksud dan keinginan yang juga ternyata sama.
“Mengapa harus dibagi tiga, bagaimana kalau kita bagi 2 saja.” salah seorang memberi usulan.
“Ya, kita tentu akan mendapatkan lebih banyak !” yang lain menimpali, setuju.
“Lalu bagaimana kita menyingkirkannya ?” kata mereka hampir bersamaan, tentang teman mereka yang sedang membeli makanan.
“Kita bunuh saja !”
“Setuju, kita bunuh sebelum ia menyadari apa yang kita sepakati.”
Lelaki yang pergi membeli makanan , telah melaksanakan rencana dan maksud jahatnya. Seperti yang terlintas dalam fikirannya. Ia telah makan lebih dulu, dan memberi racun mematikan dalam makanan untuk kedua temannya. Demikian juga dengan 2 orang yang lain, yang tengah menunggu emas dan menanti makanan. Mereka telah siap menghadang dan menyergap, berbulat tekad untuk melaksanakan rencana jahat dan maksud mereka. Bunuh segera dan secepatnya ketika sang teman pembawa makanan terlihat datang.
Seluruh rencana berjalan baik.
Semua maksud jahat berlangsung sempurna.
Teman yang membawa makanan dibunuh seketika ia baru tiba. Ia mati.
Kedua orang yang lapar, serentak sigap menyantap makanan. Racun beraksi. Keduanya mati.
Semuanya menggelepar, menggeletak, membujur, ketiganya mati. Saksikanlah, Tiga mayat lelaki.
Beberapa saat kemudian, nabi Isa AS dengan teman-temannya yang lain, lewat melintas di sana. Mereka melihat tiga lelaki menggeletak dan membujur, mati. Di sebelah mayat-mayat itu, terdapat emas dalam jumlah melimpah. Para sahabat nabi Isa tak mengerti dengan apa yang mereka lihat. Sehingga kemudian mereka bertanya kepada nabi Isa AS.,
“Wahai nabi, bagaimana peristiwa ini terjadi ?”
“Begitulah dunia, maka berhati-hatilah !” jawab nabi Isa AS, seraya memberi pelajaran, setelah dengan runtut beliau menjelaskan seluruh kejadian. Waspadalah, “Dunia, I Love You !”
(diriwayatkan oleh Allaits, dari Jarir. Sumber: Irsyadul ‘ibad halaman 40-41)
Jumat, 02 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar